Sabtu, 01 Maret 2014

IPTEK VOICE : INOVASI DAN APLIKASI BETON PRACETAK MENJAWAB KEBUTUHAN PASAR
Print PDF Facebook Twitter Email
Teknologi beton pracetak menggantikan operasi pembetonan tradisional karena beberapa potensi manfaatnya, antara lain terkait dengan waktu, biaya, kualitas, predictability, keandalan, produktivitas, kesehatan, keselamatan, lingkungan, koordinasi, inovasi, reusability serta relocatability (Gibb, 1999).
Siaran IPTEK VOICE hari Kamis, 10 Juli 2008 pukul 16.30-17.00 WIB mengulas topik “Inovasi dan Aplikasi Beton Pracetak Menjawab Permintaan Pasar” dengan narasumber Widijanto RMA, ing.arch sebagai Deputy Director PT Duta Sarana Perkasa.

“Beton Pracetak diambil dari kata pra (sebelum) itu adalah beton yang kita cetak di pabrik atau di lokasi lain, dan dibawa ke tempat dimana dia dipasang lalu di sambung atau di-joint agar didapat suatu bentuk seperti apa yang kita inginkan dan juga memenuhi persyaratan dan memenuhi keinginan dari perencananya penggunannya,” jelas Widi. “Beton biasanya terdiri dari bahan baku semen, pasir, batu-batuan atau kita sebut split, ini yang disebut screening dan sekarang ada beberapa tipe ukuran kemudian dicampur dengan air lalu diaduk kemudian langkah selanjutnya dicor atau dituang ke dalam suatu bentuk yang diinginkan, misalnya tiang, balok dan lain sebagainya,” tegas Widi.

“Kalau di bagunan tentunya dipecah-pecah menjadi komponen, ada yang untuk kolom, untuk penunjang ada yang untuk balok juga penopang dari suatu konstruksi, untuk lantai, untuk dinding dan belakangan yang sangat banyak dipakai adalah untuk dinding kulit luar dari suatu bangunan,” jelas Widi. “Untuk ukuran, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti keinginan konsumen atau perencana, karena kalau tidak dia tentunya akan beralih untuk mencari material lain yang lebih cocok dengan keinginannya, tapi kita juga punya keterbatasan artinya ukuran itu tidak bisa sebesar-besarnya sehingga tidak bisa ditransportasi atau diangkut di jalan raya karena membahayakan keselamatan oleh ukurannya yang terlalu besar, terlalu lebar dan terlalu panjang,” terang Widi”

”Untuk ketahanannya terhadap faktor alam nantinya akan dihitung jadi ada beberapa faktor, kebetulan beberapa waktu terakhir ini perhitungan untuk keselamatan pada waktu gempa ditingkatkan, khususnya di Jabotabek jadi ada faktor-faktor yang dinaikan, namun yang kami introduksi sekarang adalah yang kami sebut M-System ini karena jaringan tapi tulangannya berkesinambungan antara lantai dengan dinding kemudian antara dinding dengan atap, jadi pembuatan atapnya dengan bahan yang sama, tulangannya menyeluruh dan hal itu membuatnya sangat tahan terhadap gempa, pada tes yang diadakan dan kebetulan tes yang dilakukan di luar tapi kita akan membuat tes lokal atau dalam negeri, dikatakan bahwa ini sudah dites dan aman sampai dengan 8 skala richter,” terang Widi.

Sahabat Iptek...simak terus informasi Iptek yang menarik dan berguna lainnya dari narasumber pakar dibidangnya pada siaran radio IPTEK VOICE langsung dari studio mini Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Gedung BPPT II lt.8, Jl. M.H.Thamrin 8, Jakarta setiap hari Selasa pukul 08.30-09.00 WIB dan Kamis pukul 16.30-17.00 WIB di RRI Pro2 FM Jakarta (105.0 FM).

IPTEK VOICE "The Sound of Science". (ap-mi/adpdki)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar