Jumat, 13 Juni 2014

Tren Pasar Semen Dan Pembangunan Indonesia

Oleh: Ir. Widodo Santoso
Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI)


Inspirasi Bangsa
Semen merupakan salah satu Industri strategis yang diproduksi di Indonesia, karena semen merupakan faktor penting dalam pembangunan dan perekonomian.
Kita memproyeksikan, kapasitas produksi semen nasional akan mencapai 80 juta ton pada 2016 dari sembilan produsen semen di Indonesia, atau meningkat dibanding akhir 2013 yang diperkirakan sebanyak 58,270 juta ton.
Ekspansi sejumlah produsen semen di Indonesia menjadi pemicu kenaikan kapasitas tersebut. Kapasitas semen dalam negeri pada 2016 akan mencapai 79,220 juta ton. Angka tersebut dihasilkan dari sembilan perusahaan yang sudah lama di Indonesia.
Target tersebut didapat melalui data peningkatan hasil sembilan perusahaan semen di Indonesia. Semen Padang yang menghasilkan 6,5 juta ton pada 2013 dan diperkirakan akan menghasilkan 8,160 juta ton pada 2014 dan 9,250 juta ton pada 2015 dan 2016. Selain Semen padang, delapan perusahaan semen lainnya adalah Lafarge, Baturaja, Indocement, Holcim, Semen Indonesia, Merah Putih, Tonasa, Bososwa, dan Kupang.
Untuk Lafarge diperkirakan akan memiliki kepasitas 1,6 juta ton pada 2013 dan 3,2 juta ton pada periode 2014 hingga 2016. Semen Baturaja menghasilkan 1,5 juta ton pada 2013 dan meningkat menjadi 2,6 juta ton di 2014, sedangkan 2015 dan 2016 menghasilkan semen sebesar 2,7 juta ton.
Sedangkan tingkat konsumsi semen di dalam negeri selama sembilan bulan pertama pada 2013 hanya 41,5 juta ton, tumbuh 5,3% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Sebagai perbandingan, selama Januari sampai September 2012, penjualan semen nasional mampu tumbuh 15%. Kala itu, penjualan semen pada periode tersebut mencapai 39,4 juta ton. Terjadi perlambatan pertumbuhan, tren pelambatan pertumbuhan penjualan semen sampai kuartal III 2013 ini tak lepas dari volume konsumsi yang sudah lumayan tinggi pada tahun lalu. Sehingga tahun 2013 angka pembandingnya juga cukup tinggi.
Untuk diketahui pada 2012, tren penjualan semen melonjak tinggi lantaran pertumbuhan permintaan baik ritel maupun untuk proyek besar jauh lebih tinggi ketimbang tahun 2011. Meski begitu, secara volume, permintaan semen tetap tumbuh dari tahun ke tahun.
Kenaikan permintaan semen, terutama menjelang akhir tahun akan lebih banyak yang berasal dari proyek-proyek besar milik pemerintah. Sebagian besar masih dalam bentuk semen kemasan. Sementara itu, jika dilihat dari peta penyebarannya, selama sembilan bulan pertama tahun ini, pertumbuhan penjualan semen tertinggi di pasar domestik terjadi di kepulauan Nusa Tenggara. Untuk aspek penjualan semen di wilayah ini selama Januari hingga September tumbuh 8,6% menjadi 2,4 juta ton.
Sedangkan penjualan semen di Jawa dan Kalimantan masing-masing hanya tumbuh 7,1% sepanjang Januari – September 2013. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, penjualan semen di Jawa mencapai 23,3 juta ton. Sedangkan di Kalimantan, konsumsinya mencapai 3,1 juta ton.
Tapi pertumbuhan penjualan semen di beberapa daerah masih jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 7%. Antara lain di Sulawesi yang naik 3,3% dan Sumatra yang cuma tumbuh 1%. Bahkan, permintaan semen di Maluku dan Papua justru minus 1,5%.
Meski pasar semen dalam negeri melambat, namun produsen semen milik BUMN, seperti PT Semen Indonesia Tbk masih mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan 14,3% sejak awal tahun hingga kuartal III-2013. Namun begitu, secara nasional penjualan semen di Indonesia mengalami kenaikan. Sepanjang Januari hingga September 2013, penjualan Semen di pasar domestik mencapai 18,2 juta ton. Angka penjualan ini tumbuh 14,46% dari periode yang sama tahun 2012 yang sebanyak 15,9 juta ton.

Pulau Jawa
Jangan takjub bila Pulau Jawa menjadi pasar semen paling besar di Indonesia. Alasannya, di pulau ini, sentra-sentra industri dan pembangunan berada yang mana membutuhkan konsumsi semen yang lebih tinggi dibanding dengan wilayah lain di Indonesia.
Sebanyak 55 persen kebutuhan semen di Indonesia berada di pulau Jawa dengan konsumsi 29 juta ton per tahun. Hal lainnya adalah faktor populasi kelas menengah di Pulau Jawa yang menengah yang juga mendorong pertumbuhan tingkat kebutuhan semen. Pulau Jawa merupakan pulau terpadat penduduknya dengan jumlah sekitar 150 juta jiwa. Kelas menengahnya pun terus meningkat dan ini memengaruhi tingkat konsumsi semen. Hal ini terkait dengan kebutuhan perumahan dan sebagainya. Tidak disangkal bila pertumbuhan semen ini seiring dengan pertumbuhan properti di Indonesia.
Peringkat dua dalam konsumsi semen ada di pulau Sumatera dengan pangsa pasar sekitar 23 persen, disusul Sulawesi dan Kalimantan sebesar tujuh persen. Sementara itu, bila dilihat dari tingkat konsumsi semen per kapita di wilayah Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan ke-enam dengan konsumsi per kapita sebesar 218 kilogram.
Berdasar data tahun 2012, Singapura menempati peringkat pertama dalam konsumsi semen per kapita 6.284 kilogram, disusul Brunei sebesar 1.213 kilogram, Malaysia sebesar 640 kilogram, Vietnam 509 kilogram, dan Thailand sebesar 434 kilogram. Singapura terbilang besar karena faktor pembaginya sangat kecil. Berbeda bila dibandingkan dengan Indonesia yang jumlah penduduknya paling besar.
Namun bila dilihat dari total kebutuhan semen per tahunnya, Indonesia mencapai 55 juta ton per tahun. Sedangkan, Singapura hanya 12 juta ton per tahun, Vietnam sebesar 45 juta ton per tahun, dan Malaysia sebesar 20 juta ton per tahun. Selama lima tahun belakangan, konsumsi per kapita Indonesia ini tergolong naik. Pada tahun 2007, konsumsi semen per kapita mencapai 141 kilogram. Pada tahun 2011, konsumsi ini meningkat menjadi 200 kilogram.

Regulasi Impor
Produsen semen asing sepertinya tak lagi leluasa menjual produknya di Indonesia. Pasalnya, pemerintah telah memberlakukan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40/M-DAG/PER/8/2013 tentang Ketentuan Impor Semen Clinker dan Semen. Beleid ini diyakini mampu meningkatkan investasi dari sektor semen di dalam negeri.
Selama ini, impor semen terus meningkat meskipun produksi semen di dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional. Dengan aturan ini, ke depan impor semen dan clinker (semen setengah jadi) akan semakin ketat sehingga tidak semua produsen semen asing bisa menjual produknya ke Indonesia. Imbasnya, perusahaan yang ada di Indonesia bisa lebih leluasa untuk berekspansi dan menarik investor baru untuk membangun pabrik.
Beleid yang berlaku per 1 September 2013 hingga 1 September 2017 ini antara lain mengatur tentang impor semen putih berwarna artifisial dan tidak dengan kode tarif (HS) 2523.21.00.00, semen diwarnai dengan HS 2523.29.10.00 dan semen lain dengan HS 2523.29.90.00.
Pembatasan impor juga dilakukan untuk semen alumina berkode HS 2523.30.00.00, dan semen hidrolik lainnya berkode HS 2523.90.00.00. Dengan pembatasan ini, hanya importir terdaftar yang mengantongi rekomendasi dari Kementerian Perindustrian yang bisa mengajukan izin impor semen-semen tersebut ke Kementerian Perdagangan.
Sementara yang diatur dalam impor clinker adalah produk dengan HS 2523.10.10.00, dan HS 2523.10.90.00. Hanya importirtir produsen yang memiliki fasilitas produksi terintegrasi di Indonesia dan punya rekomendasi Kemperin yang bisa mengimpor clinker ini.
Sementara konsumsi semen nasional yang tumbuh pesat mendorong produsen semen berekspansi untuk mendongkrak kapasitas produksi. Di sisi lain, impor semen dan clinker terus meningkat dari 700.000 ton pada 2012 dan diperkirakan naik jadi satu juta ton di 2013.

Investasi Baru
Melihat pasar semen yang sangat menggairahkan itu, tak heran banyak investor yang tertarik ingin menanamkan investasinya di sini. Saat ini ada sebanyak 12 investor yang siap menggelontorkan dananya sekitar US$ 6,68 miliar (Rp 65,03 triliun). Investasi sebesar itu, tentu saja akan melipat gandakan kapasitas produksi semen di Tanah Air menjadi 108,77 juta ton, atau bertambah 48,3 juta ton dari akhir 2012 masih 60,47 juta ton. Sedangkan investor lama yang kini telah memiliki pabrik semen akan menambah kapasitas produksi 35,3 juta ton dengan nilai investasi US$ 4,83 miliar (Rp 47,03 triliun).

Sejarah berdiri
Asosiasi Semen Indonesia (ASI) pada mulanya didirikan sebagai suatu forum komunikasi, konsultasi dan koordinasi yang bertujuan untuk melakukan kerja sama antara anggotanya dalam mengembangkan industri semen baik dalam hal produksi, mutu, pemasaran, penelitian dan pengembangan maupun dalam hal-hal lain yang dirasakan perlu oleh para anggota, masyarakat dan negara Indonesia.
ASI secara resmi berdiri pada tanggal 7 Oktober 1969, kala itu hanya dua pabrik semen yang menjadi anggota, yakni P.N. Semen Padang dan P.N. Semen Gresik.
Pada perkembangannya Asosiasi Semen Indonesia menyesuaikan dengan kebutuhan para anggotanya dan keadaan perkembangan yang terjadi di Indonesia akibat dari kebijakan yang di ambil pemerintah atas kegiatan ekonomi.
Sejalan dengan pesatnya pembangunan, dan seiring bertumbuhnya pabrik semen baru di Tanah Air, anggota ASI saat ini berjumlah 9 (sembilan), mereka itu terdiri dari : PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, PT Holcim Indonesia Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Baturaja, PT Semen Andalas Indonesia, PT Semen Kupang, dan PT Semen Bosowa Maros.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar